Lombok Barat, – Salah satu Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Lombok Barat, Fathurrahman Lord, menyampaikan keprihatinannya terhadap kepemimpinan Ketua KONI Lombok Barat saat ini yang dinilai tidak profesional dan tidak proporsional dalam menjalankan roda organisasi.
Menurut Fathurrahman, Ketua KONI Lobar saat ini dinilai kurang fokus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi karena memiliki sejumlah jabatan strategis di luar KONI. Kondisi tersebut berdampak pada tidak optimalnya pelaksanaan program-program kerja yang telah disepakati bersama dalam rapat kerja pengurus.
“Banyak program yang sudah dijadwalkan dalam rapat kerja KONI Lobar tidak dijalankan sesuai ketentuan. Salah satunya adalah program Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah) yang sangat krusial bagi pembinaan atlet,” ungkap Fathurrahman, Senin, 3/2/2026.
Ia menjelaskan, Pelatda yang seharusnya dilaksanakan pada Oktober justru mengalami kemunduran hingga Desember. Padahal, Pelatda merupakan program pembinaan dan pelatihan intensif bagi cabang olahraga (cabor) dalam rangka mempersiapkan atlet-atlet unggulan menuju kejuaraan olahraga di tingkat daerah maupun nasional.
Akibat kondisi tersebut, Fathurrahman mengaku bersama sejumlah pengurus lainnya yang tergabung dalam MOSI menyatakan mosi tidak percaya terhadap Ketua KONI Lobar. Ia juga menyayangkan adanya dugaan tindakan sepihak, termasuk isu dikeluarkannya salah satu cabang olahraga akibat sikap kritis terhadap kepemimpinan Ketua KONI.
“Kalau benar ada cabor yang dikeluarkan karena mosi tidak percaya, ini sangat memprihatinkan dan mencerminkan sikap yang cenderung diktator,” tegasnya.
Selain itu, Fathurrahman juga menyoroti penggunaan anggaran KONI Lobar yang diduga tidak sepenuhnya sesuai dengan hasil rapat pengurus. Ia menilai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran harus menjadi prioritas utama demi kemajuan olahraga di Lombok Barat.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa dalam dinamika organisasi, beberapa usulan dari pengurus kerap tidak diakomodir. Bahkan, menurutnya, pengurus yang dianggap tidak sejalan dengan pemikiran Ketua KONI berpotensi dikeluarkan dari grup komunikasi organisasi.
“Ini bukan budaya organisasi yang sehat. Perbedaan pendapat adalah hal wajar dan seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk mengucilkan atau menyingkirkan,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan olahraga di Lombok Barat, Fathurrahman secara terbuka meminta Ketua KONI Lobar saat ini untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya apabila tidak mampu menjalankan tugas secara maksimal.
“Jika memang tidak sanggup karena kesibukan lain, mundur adalah langkah terhormat demi kemajuan KONI Lombok Barat. Organisasi ini butuh sosok yang siap berkorban, fokus, dan konsisten menjalankan keputusan bersama, bukan hanya bergantung pada anggaran,” pungkasnya.

