Brigjen Pol Lalu Iwan Mahardan, Sebuah Catatan Jurnalis

0



Oleh: M. Tajir Asyjar Djr.

NTB - Kenaikan pangkat Lalu Muhammad Iwan Mahardan, S.IK., M.M. menjadi Brigadir Jenderal Polisi terasa seperti jeda sejenak untuk menoleh ke belakang. Bukan sekadar melihat bintang baru di pundak, tetapi membaca ulang perjalanan panjang seorang perwira yang tumbuh dari bawah, menempa diri di banyak medan, lalu tiba di titik pengabdian baru.


Lulusan AKABRI 1994 ini kini masuk jajaran perwira tinggi (Pati) Polri. Dari pangkat Komisaris Besar Polisi, ia melangkah ke level Brigjen. Bagi publik, ini kabar prestasi. Bagi saya sebagai jurnalis, terutama yang lama bersentuhan dengan isu hukum dan kepolisian di NTB, ini lebih mirip catatan perjalanan hidup seorang aparatur negara yang konsisten bekerja dalam sunyi.


Sapaan akrab Mamiq Lalu Iwan lahir di Nusa Tenggara Barat, 22 Januari 1972. Identitas kedaerahan itu tak pernah ia lepaskan, meski karier membawanya berkeliling Indonesia bahkan ke luar negeri. Pengabdian dimulai dari Korps Brimob di pertengahan 1990-an. Kalimantan Barat menjadi saksi awal bagaimana seorang perwira muda belajar soal disiplin, risiko, dan membaca dinamika masyarakat di lapangan.


Jakarta kemudian datang dengan segala kompleksitasnya. Menjadi Kapolsek Metro Jagakarsa, Kelapa Gading, Penjaringan, hingga Polsek Metro Setiabudi bukan perkara sederhana. Wilayah-wilayah itu menuntut kepemimpinan yang adaptif, cepat, dan komunikatif. Dari sana, ia dipercaya memimpin Polres Dharmasraya di Sumatera Barat. Pola kariernya memperlihatkan satu hal: kepercayaan organisasi dibangun melalui proses panjang, bukan jalan pintas.


Level nasional pun ia jalani. mulai Staf Operasi (Sops) Polri, Baharkam Polri, STIK Lemdiklat Polri, hingga Itwasda Polda NTB menjadi bagian dari rekam jejaknya. Tugas-tugas khusus ikut memperkaya perspektif, mulai dari Liaison Officer ASEAN Games 2018, LO Polri KPU RI, hingga pengamanan Pemilu Jepang 2019. Pada titik ini, peran polisi bukan hanya soal keamanan, tetapi juga diplomasi dan koordinasi lintas lembaga.


Pendidikan menjadi bekal penting. PTIK dan Sespimmen dilengkapi pelatihan internasional di Italia dan Thailand, serta pendidikan bahasa Mandarin di Beijing. Kemampuan berbahasa Inggris, Sasak, dan Jawa membuat komunikasi lintas sektor berjalan cair. Deretan Satyalancana Kesetiaan dan Satyalancana Seroja menandai perjalanan dinas panjang yang dijalani dengan konsisten.


Namun, catatan saya tak berhenti di sana. Ada satu fragmen kecil, tetapi bermakna, saat ia menjabat Plh. Kabid Humas Polda NTB. Masa tugasnya singkat, hanya sekitar tiga bulan. Di rentang waktu itulah ia menggagas terbentuknya perkumpulan wartawan hukrim Polda NTB. Ide ini sederhana, namun relevan: menghadirkan ruang berkumpul, berdiskusi, dan saling menguatkan bagi jurnalis yang setiap hari bersentuhan dengan isu hukum dan kriminal.


Respons wartawan kala itu sangat positif. Puluhan jurnalis aktif menyambut inisiatif tersebut. Musyawarah demi musyawarah digelar. Struktur kepengurusan hampir rampung. Sayangnya, waktu tak berpihak. Ketika semua terasa siap, Lalu Iwan Mahardan tak lagi berada di posisi Plh. Kabid Humas. Jabatan itu beralih ke Kombes Pol. Arman Asmara Syaridudin, S.IK.


Para wartawan sempat kehilangan arah. Inisiator sekaligus pengemong sudah tak di tempat. Forum yang digadang-gadang menjadi wadah wartawan hukrim pun gagal terbentuk. Cerita ini mungkin tak tercatat di laporan resmi mana pun. Namun, bagi kami para jurnalis, ini jejak niat baik yang patut dikenang.


Kini, Brigjen Pol. Lalu Muhammad Iwan Mahardan, S.IK., M.M. mengemban amanah baru sebagai Sekretaris Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional RI., dimana sebelumnya menduduki jabatan Kepala Biro Hukum dan Humas BGN RI. Bidang yang jauh dari hiruk-pikuk patroli dan konferensi pers kepolisian. Tetapi saya percaya, semangat kolaborasi dan pendekatan humanis yang pernah ia tunjukkan tetap hidup dalam peran barunya.


“Menjadi polisi bukan sekadar profesi, tapi jalan pengabdian untuk menjaga bangsa dengan hati.”


Kalimat itu terasa relevan menutup catatan ini. Sebab, bagi seorang jurnalis, yang paling mudah diingat bukan hanya pangkat atau jabatan, melainkan sikap. Dan Brigjen Pol. Lalu Muhammad Iwan Mahardan, S.IK., M.M. meninggalkan catatan sikap itu—tenang, terbuka, dan berpihak pada kerja bersama.

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)