Tim Dosen dan Mahasiswa FEB Universitas Mataram Latih Pengrajin Tenun Sukarara Kembangkan"Storytelling Marketing" di Media Sosial

Daftar Isi



LOMBOK TENGAH — Tim dosen pelaksana pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan BisnisUniversitas Mataram menggelar kegiatan pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku usaha kain tenun tradisional Sasak di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan inovatif ini bertujuan untuk meningkatkankapasitas pengrajin dalam memperluas jangkauan pasar melalui strategi komunikasi pemasaran storytelling berbasismedia sosial. (21/7/2026).

 

Desa Sukarara selama ini dikenal sebagai salah satu sentrakerajinan tenun unggulan yang memiliki potensi besar sebagai basis ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal. Namun, para pelaku usaha di desa ini masih kerap menghadapi kendala pemasaran karena terlalumengandalkan metode konvensional, seperti promosi darimulut ke mulut atau mengandalkan kunjungan wisatawan ke artshopsecara langsung. Padahal, jangkauan pasar yang terbatas ini dapat diatasi dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi digital.

 

Menurut tim pelaksana, tantangan utama yang dihadapipara pengrajin selama ini adalah kecenderungan pemasaran yang hanya berorientasi pada transaksi (transaction-oriented), di mana promosi sebatas menampilkan foto, harga, dan spesifikasi teknis kain. Padahal, kain tenun Sasak menyimpan story value yang sangat mendalam, mulai dari filosofi di balik setiap motif, kerumitan proses pewarnaan, hingga dedikasi para pengrajin yang mempertahankan teknik pembuatan tradisional dengan alat gedogan. 


Melalui storytelling, nilai-nilai tak berwujud (intangible) inilah yang diangkat untukmembangun hubungan emosional (relationship-oriented) dengan calon pembeli, sehingga konsumen tidak sekadarmembeli kain, melainkan mengapresiasi sebuah karya senibudaya.

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dosen hadir memberikan materi komprehensif yang dirancang khusus untuk menjembatani produk budaya dengan teknologidigital. Kegiatan ini dipandu oleh empat pakar dengan fokus materi yang saling melengkapi. Prof. Hj. Sulhaini, SE, M.Sc., Ph.D. membuka wawasan peserta dengan pemaparan mendalam mengenai bagaimana perilaku konsumen di era digital saat ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi di media sosial. 


Hal tersebut kemudian diperkuat oleh Dr. Baiq Handayani Rinuastuti, SE, MM. yang menyoroti aspek emosional audiens, khususnya mengenai peran penting narasi atau storytelling dalam memengaruhi sisi psikologis konsumen sehingga merekamerasa lebih terhubung dengan suatu produk. Dari sisi implementasi, Dr. Emilia Septiani, SE., MM. turut membekali para pengrajin dengan teknik dan strategi praktis terkait pemasaran yang efektif dan terstruktur melalui platform media sosial. Sebagai pelengkap, Zefanya Andryan Girsang, SE., MM. memaparkan strategi analitis mengenai penargetan konsumen, memastikan bahwa ceritayang telah dibangun dapat secara akurat menjangkau target pasar yang paling tepat dan relevan.

 

Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan Particiatory Action Research (PAR), di mana 21 pengrajin tidak hanya menjadi pendengar, tetapi diposisikan sebagaisubjek aktif. Mereka diajak berkolaborasi untuk menggali cerita dari pengalaman sehari-hari, merumuskan nilai budaya produk, dan mengubahnya menjadi konten narasi yang memikat, baik dalam bentuk caption, foto, maupunvideo pendek untuk platform seperti Instagram dan TikTok.

 


Proses transformasi digital ini diawali melalui pelatihanyang dilaksanakan pada 21 Juli 2026 dan dilanjutkan dengan pendampingan oleh tim dosen dan mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa turut memegang peran penting dalam membantu dokumentasi, pendampingan produksivisual, hingga evaluasi interaksi audiens. Selama masa pendampingan tersebut, tim memantau langsung praktik pembuatan konten oleh para pengrajin dan mengevaluasi respons audiens di dunia maya guna memastikan strategi komunikasi yang diterapkan berjalan efektif.

 

Hasil dari program pengabdian ini menunjukkan peningkatan kapasitas yang sangat signifikan. Berdasarkanpengamatan dan evaluasi tim, tingkat pemahaman peserta mengenai konsep pemasaran digital dan storytelling mengalami kemajuan yang pesat usai pelaksanaan program. Peningkatan paling nyata terlihat pada kemampuan pengrajin dalam memproduksi dan menyusun konten narasi, membuktikan bahwa praktik langsung sangat efektif membantu mereka mengubah informasi historis serta budaya menjadi pesan pemasaran yang memikat.

 

Antusiasme dan penerimaan warga terhadap program ini juga terbukti sangat tinggi. Dari hasil evaluasi pasca-kegiatan, para peserta menyatakan tingkat kepuasan yang maksimal terhadap materi serta metode pendampingan yang diberikan. 


Para pengrajin menyampaikan keinginan besar untuk mengikuti kegiatan lanjutan, mengingat besarnya manfaat yang dirasakan secara langsung bagi strategi pemasaran dan peningkatan eksposur produk tenun mereka. Fakta ini menegaskan bahwa materi yang diberikan sangat aplikatif dengan kondisi usaha riil di Desa Sukaraja.

 

Melalui inisiatif kegiatan ini, digitalisasi pemasaran bagi pengrajin Desa Sukarara tidak lagi sebatas memindahkan katalog produk ke ranah maya, melainkan bertransformasi menjadi komunikasi yang secara aktif membangun keterikatan (engagement). 


Pendekatan storytelling marketing ini diharapkan mampu memperkuat daya saingkain tenun Sasak sebagai warisan lokal yang bernilai tinggi, sekaligus mendongkrak kesejahteraan ekonomi para pengrajinnya di pasar nasional maupun global.

Posting Komentar