Menginspirasi Dunia Pendidikan, H. Abdul Azis Faradi Luncurkan Buku Perdana "Seni Menjadi Guru Madrasah"

Daftar Isi

 




Lombok Barat – Memasuki bulan September 2026, dunia literasi pendidikan kembali memperkaya khazanahnya dengan hadirnya sebuah karya inspiratif berjudul "Seni Menjadi Guru Madrasah (Antara Panggilan Hati dan Profesi)". Buku perdana karya H. Abdul Azis Faradi, M.Pd., ini resmi diterbitkan untuk menjadi panduan serta motivasi bagi para guru madrasah dalam mengembangkan kompetensi secara komprehensif.

Dalam buku tersebut, penulis merangkum empat kompetensi utama guru yang dibahas secara mendalam, yakni kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian.

H. Abdul Azis Faradi mengungkapkan bahwa buku ini mengupas berbagai perspektif dunia pendidikan berdasarkan pengalaman nyata dirinya selama kurang lebih 27 tahun mendedikasikan diri sebagai tenaga pendidik. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut dilandasi oleh panggilan jiwa dan ketulusan hati dalam mengajar, mendidik, membina, mengevaluasi, hingga merefleksikan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di madrasah.

"Menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi sebuah panggilan hati yang membutuhkan keikhlasan dalam membimbing generasi bangsa," ujar H. Abdul Azis Faradi.

Dari segi legalitas dan penerbitan, buku ini telah memiliki Nomor Standar Internasional Buku atau ISBN (978-634-316-391-5) yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Buku ini diterbitkan oleh PT Media Penerbit Indonesia yang berbasis di Kota Medan dan merupakan anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Penulis berharap kehadiran buku ini tidak hanya menjadi bacaan biasa, tetapi mampu menjadi sumber inspirasi bagi para guru madrasah, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan umumnya di seluruh Indonesia. Buku ini juga diharapkan dapat memperkuat budaya literasi di kalangan pendidik, sekaligus menambah wawasan dan referensi untuk pengembangan diri.

"Semoga buku ini dapat menjadi motivasi dan jendela pemahaman bagi para pembaca, sehingga memberikan pengalaman berharga. Sebab, pada akhirnya, hanya karya dan nama baik yang akan kita tinggalkan untuk generasi muda kita demi menyongsong Generasi Emas (Golden Age) 2045," pungkasnya.

Posting Komentar