Menelusuri Jejak Erupsi Mahadahsyat Samalas: Pokdarwis Aik Berik Ajak Peserta Famtrip Geo Tour Pahami Geologi dan Konservasi Air
LOMBOK TENGAH — Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Aik Berik, Rodian Fahlepi, mengajak para peserta familiarization trip (Famtrip) Geo Tour menyelami sejarah bentang alam Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. (29/10/2026)
familiarization trip sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi, produk, dan pengalaman wisata yang dimiliki desa wisata kepada pelaku industri pariwisata dan pemangku kebijakan.
Dalam tur edukatif tersebut, Rodian memaparkan bagaimana karakteristik kawasan hutan serta kekayaan hidrogeologi Aik Berik berkaitan erat dengan peristiwa erupsi mahadahsyat Gunung Samalas (kompleks Gunung Rinjani purba) pada tahun 1257 Masehi.
Sambil menunjukkan Peta Geologi dan Peta Hidrogeologi, Rodian menjelaskan bahwa Desa Aik Berik berada di lereng selatan Gunung Rinjani. Wilayah ini terbentuk dari endapan material vulkanik serta aliran piroklastik akibat letusan Samalas ribuan tahun silam—erupsi global terbesar dalam sejarah peradaban manusia yang melenyapkan Kerajaan Pamatan.
Jejak Peradaban yang Tertimbun
Bukti kedahsyatan letusan Samalas dan keberadaan peradaban masa lalu tidak hanya tercatat dalam peta geologi, tetapi juga ditemukan langsung di lapangan. Di beberapa lokasi Desa Aik Berik, seperti Dusun Ranjok dan Tanak Bengan, aktivitas penggalian tanah urug kerap menyingkap artefak kuno, pecahan keramik, hingga peninggalan bersejarah yang tertimbun endapan erupsi di kedalaman puluhan meter.
"Melalui Geo Tour ini, kami ingin memperlihatkan bahwa Aik Berik bukan sekadar destinasi alam biasa, melainkan laboratorium geologi dan sejarah yang hidup. Apa yang kita tapaki hari ini adalah jejak transformasi alam pasca-erupsi Samalas," ujar Rodian Fahlepi di hadapan para peserta famtrip.
Keajaiban Mata Air Purba dan Sustainable Tourism
Nama Aik Berik berasal dari bahasa Sasak, di mana "Aik" berarti air dan "Berik" berarti jernih/bersih. Nama ini merujuk pada melimpahnya sumber mata air alami di kawasan ini.
Secara ilmiah, mata air di Aik Berik keluar dari celah-celah batuan dan akuifer (endapan air tanah). Proses pembentukan endapan air tanah ini memakan waktu yang sangat panjang, yakni minimal 100 tahun akibat dinamika dan pergerakan lempeng bumi. Struktur geologi unik inilah yang membuat debit air di Aik Berik tetap mengalir jernih melimpah meskipun di tengah musim kemarau panjang.
Saat ini, keunggulan hidrogeologi tersebut menjadi fondasi utama berkembangnya Desa Wisata Aik Berik, yang terkenal dengan potensi wisata agro, hutan kemasyarakatan, serta pesona air terjun ikonik seperti Benang Kelambu dan Benang Stokel.
Rodian menegaskan pentingnya menjaga kelestarian hutan tutupan di lereng Rinjani ini demi menjaga siklus hidrogeologi yang sudah terbentuk selama ratusan tahun.
"Air yang kita nikmati hari ini adalah buah dari proses geologi ratusan tahun. Tugas kita sekarang adalah mempraktikkan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Menjaga kelestarian hutan berarti menjaga ketersediaan air tanah untuk masa depan pariwisata dan kehidupan masyarakat Aik Berik," tutup Rodian.
Melalui kegiatan Famtrip Geo Tour ini, Pokdarwis Aik Berik berharap para peserta dan insan media dapat menyebarluaskan narasi pariwisata berbasis edukasi geologi, sejarah, dan konservasi lingkungan secara lebih luas.





