Literasi Digital Masih Jadi Tantangan: Kisah IKM Monjok Barat Belajar QRIS Demi Naikkan Omzet Penjualan
Daftar Isi
MATARAM – Di tengah pesatnya perkembangan era dompet digital dan transaksi non-tunai, realitas di lapangan kerap kali berbicara berbeda. Masih banyak pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang tertinggal dalam mengadopsi teknologi finansial.
Seperti yang terlihat di Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Sebanyak 90 persen dari total 91 unit IKM di wilayah ini masih mengandalkan transaksi tunai. Padahal, ironisnya, 99,8 persen dari IKM tersebut bergerak di sektor kuliner—sebuah bidang usaha yang memiliki potensi perputaran transaksi harian yang sangat besar.
Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) tergerak untuk turun tangan. Dipimpin oleh Ida Ayu Putri Suprapti bersama anggota tim Taufik Chaidir, Akhmad Jufri, St Maryam, dan Gusti Ayu Arini, mereka menggelar program pelatihan dan pendampingan intensif penggunaan sistem pembayaran non-tunai berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 30 Juli 2026 dan 14 Agustus 2026.
"Masifnya perkembangan teknologi digital harusnya bisa meningkatkan velocity circulation of money dan omzet penjualan. Tapi jika literasi digitalnya rendah, pelaku IKM tidak akan merasakan manfaatnya," ujar perwakilan Tim Pengabdian.
Berdasarkan pemetaan tim, rendahnya adopsi QRIS di Monjok Barat disebabkan oleh lima faktor utama: rendahnya literasi keuangan digital, keterbatasan sinyal internet yang stabil, rendahnya kepercayaan terhadap keamanan transaksi digital, zona nyaman menggunakan uang tunai, serta ketiadaan pendampingan yang berkelanjutan.
Untuk menjawab persoalan ini, tim FEB Unram merancang program komprehensif. Tidak hanya sebatas sosialisasi dan edukasi, mereka juga memberikan pelatihan teknis mekanisme penggunaan QRIS, mendampingi proses pembuatan rekening hingga pemasangan QRIS, serta melakukan monitoring berkala.
Materi yang disampaikan pun dirancang agar mudah dicerna, mulai dari perbandingan sistem pembayaran tunai dan non-tunai, pihak-pihak yang terlibat dalam ekosistem QRIS, manfaat bagi pengguna dan merchant, hingga solusi antisipatif terhadap potensi kerugian dalam transaksi digital.
Antusiasme Tinggi di Tengah Kendala Teknis

Sebanyak 25 pelaku IKM hadir dan mengikuti kegiatan ini dengan antusiasme yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 80 persen peserta mampu menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan. Mereka juga aktif berdiskusi, terutama terkait cara mengakses layanan lembaga keuangan perbankan.
Kendati demikian, tantangan nyata baru terlihat saat sesi praktik. Sebanyak 50 persen peserta mengaku mengalami kesulitan dalam memahami pengoperasian QRIS. Faktor tingkat pendidikan yang relatif rendah serta belum pernah bersentuhan sama sekali dengan sistem pembayaran non-tunai menjadi hambatan utama.
Meski demikian, pendekatan persuasif dan pendampingan intensif membuahkan hasil positif. Perlahan tapi pasti, transformasi digital mulai menampakkan titik terang di Monjok Barat. Sebanyak 3 orang mitra tercatat telah resmi menjadi nasabah bank, sementara 1 mitra lainnya sedang dalam proses pemasangan QRIS.
Tim pengabdian berharap ke depannya pihak perbankan dapat turun langsung ke lapangan untuk mempermudah proses pemasangan QRIS. Selain itu, diperlukan penguatan kapasitas secara berkelanjutan agar para pelaku IKM tidak sekadar bisa menggunakan, namun juga merasa nyaman dan percaya diri memanfaatkan transaksi non-tunai.
Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi dunia akademik, yakni berkontribusi nyata terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU) 2 dan IKU 7 Universitas Mataram. Mahasiswa yang dilibatkan mendapatkan pengalaman berharga di luar kampus, sementara hasil pengabdian ini dapat diintegrasikan langsung sebagai studi kasus di ruang kelas.



Posting Komentar