Kreatif! Siswa MTsN 2 Lobar Manfaatkan Daun Kelor Jadi Sabun Herbal dan Ide Bisnis
Lombok Barat – Siapa sangka tanaman yang tumbuh di pekarangan dan sering dianggap "biasa" ini kini jadi bahan ajar paling seru di madrasah.
MTs Negeri 2 Lombok Barat resmi menjadikan daun kelor sebagai pusat inovasi pembelajaran melalui _Program Profesor Berdampak_. Bukan hafalan teori, siswa diajak langsung terjun membuat sabun herbal berbahan kelor, dari memetik daun sampai mengemas produk jadi.
Kegiatan lanjutan program ini digelar di MTsN 2 Lombok Barat, Sabtu 5 September 2026. Program ini merupakan kolaborasi antara akademisi perguruan tinggi dengan madrasah, dan dirancang berlangsung selama 3 tahun.
*Belajar Sambil Berkarya, Bukan Sekadar Menghafal*
Lewat pendekatan _Project Based Learning_ atau PjBL, siswa tidak duduk diam mencatat. Mereka belajar dengan cara:
1. *Mengenal*: Mengidentifikasi tanaman kelor dan manfaatnya
2. *Mengolah*: Praktik membuat sabun herbal dari ekstrak daun kelor
3. *Merancang*: Mendesain kemasan dan konsep produk
4. *Mencoba*: Melihat peluang produk ini bisa dijual
Tahap awal difokuskan pada penguatan keterampilan membuat produk. Ke depan, siswa akan diarahkan juga ke tahap pemasaran.
Kepala MTsN 2 Lombok Barat, H. Abdul Azis Faradi, M.Pd., menyebut ini adalah cara baru menghadirkan pembelajaran yang hidup.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin pembelajaran tidak hanya selesai di ruang kelas, tetapi menghasilkan karya nyata. Potensi kelor yang ada di sekitar kita ternyata bisa jadi sumber belajar yang sangat menarik, sekaligus membuka wawasan siswa tentang inovasi dan kewirausahaan,” ujarnya.
*1 Daun, Banyak Ilmu*
Menurutnya, manfaat proyek ini jauh lebih luas dari sekadar membuat sabun.
“Anak-anak tidak hanya tahu teori. Mereka mengalami sendiri bagaimana bahan dari lingkungan sekitar bisa diolah jadi produk. Dari situ mereka belajar merencanakan, kerja tim, memecahkan masalah, dan melihat peluang,” tegasnya.
Satu proyek sabun kelor ini ternyata bisa menyentuh banyak mata pelajaran sekaligus. Ada sains saat mempelajari kandungan kelor, ada teknologi saat proses pembuatan, ada ekonomi saat menghitung modal dan harga jual, ada seni saat mendesain kemasan, dan ada nilai agama tentang memanfaatkan karunia alam.
Bagi para guru, pendampingan dari akademisi lewat _Program Profesor Berdampak_ juga jadi ruang untuk mengasah kemampuan membuat bahan ajar yang kontekstual dan sesuai dengan lingkungan siswa.
*Kelor: Dari Obat Tradisional ke Produk Ekonomi*
Selama ini kelor dikenal sebagai tanaman kaya manfaat. Kini di MTsN 2 Lobar, kelor naik kelas. Ia menjadi jembatan antara ilmu di buku dengan keterampilan di dunia nyata.
“Harapannya, kegiatan ini terus berkembang dan memberi pengalaman bermanfaat bagi siswa. Apa yang mereka pelajari di madrasah bisa jadi bekal keterampilan sekaligus membuka cara pandang terhadap peluang usaha,” ucap H. Abdul Azis.
MTsN 2 Lombok Barat berharap langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun madrasah yang Islami, unggul, berprestasi, dan inovatif, serta memberi dampak nyata bagi siswa dan lingkungan.
Dari selembar daun kelor, siswa belajar 3 hal penting: *mengenali potensi, mengasah keterampilan, dan melihat peluang ekonomi.*
Sederhana, tapi berdampak.



Posting Komentar