Viral Warga Bongkar Blokade Perempatan Rembiga ! Gufron Sebut Rekayasa Lalu Lintas Rembiga Hanya Mengurai, Bukan Solusi Permanen

Daftar Isi



MATARAM — Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Ahmad Azhari Gufron, memberikan tanggapan terkait pelaksanaan simulasi rekayasa lalu lintas tahap kedua di kawasan Rembiga. Simulasi yang berlangsung pada 10–17 Agustus tersebut dinilai cukup berhasil mengurai penumpukan kendaraan, namun belum menyentuh akar permasalahan kemacetan di wilayah tersebut.


Menanggapi adanya video viral berdurasi 20 menit, terkait penolakan warga hingga pembongkaran blokade Perempatan jalan di Depan Kantor Lurah Rembiga, Gufron menegaskan pentingnya menelusuri motif di balik aksi warga tersebut. Menurutnya, hal itu bisa saja dipicu oleh kebutuhan melintas untuk kegiatan keagamaan, kejenuhan masyarakat akibat rute putar balik yang jauh, atau penolakan murni.


“Terkait video warga menolak, tentu kita harus cari tau terlebih dahulu, karena ini merupakan simulasi yang kedua dan saya rasa cukup berhasil. Tapi ada beberapa catatan yang harus dipenuhi untuk mengatasi masih terjadinya kemacetan dijalan tersebut” tegas Gufron saat dikonfirmasi via telpon.


Ahmad Azhari Gufron - Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram

Dalam keterangannya Gufron memberikan tiga catatan kritis yang harus segera dipenuhi pemerintah daerah dalam skema rekayasa jalan ini:

  1. Perbaikan Kualitas Jalan: Banyak titik jalan di jalur pengalihan yang masih berlubang sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan baru.
  2. Pemasangan Rambu Petunjuk Arah: Belum tersedianya rambu petunjuk jalan yang baru sejak awal simulasi membuat pengendara bingung.
  3. Peningkatan Kehadiran Petugas: Kurangnya koordinasi antara Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi dan Dishub Kabupaten/Kota menyebabkan persimpangan rawan macet sering kali tanpa penjagaan.


Gufron menekankan bahwa rekayasa lalu lintas saat ini hanyalah langkah jangka pendek untuk mengurai kemacetan, bukan solusi akhir. Penyebab utama kemacetan di kawasan tersebut adalah volume kendaraan yang sudah melebihi kapasitas jalan.


Sebagai solusi jangka panjang, DPRD mendorong dua opsi permanen: pelebaran jalan yang membutuhkan pembebasan lahan, atau pembukaan jalan baru (bypass). Pemkot Mataram sendiri telah memiliki wacana Detail Engineering Design (DED) untuk pembukaan jalan tembus yang menghubungkan Dakota hingga Kebon Talo.




“Untuk solusi jangka panjang tentunya kita berharap pembukaan Jalan Baru dari Dakota Ke Kebon Talo yang sudah ada DED atau Detail Engineering Design di PUPR.” Sambungnya


Terkait proses evaluasi simulasi tahap pertama maupun kedua, Gufron mengungkapkan bahwa sejauh ini Dishub Provinsi maupun Dishub Kota berjalan sendiri dan belum membuka komunikasi atau berkoordinasi dengan Komisi III DPRD.

Posting Komentar