HUT ke-33 Kota Mataram: Nyanyu Ernawati Dorong Penyelesaian Stunting, Anak Putus Sekolah, hingga Ruang Kerja Inklusif untuk Disabilitas

Daftar Isi



MATARAM — Memasuki usia ke-33 tahun, Kota Mataram diharapkan dapat tumbuh semakin dewasa dalam memberikan pelayanan publik yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, yang menyoroti sejumlah isu krusial mulai dari penanganan stunting, tata kelola pendidikan, hingga penyediaan ruang kerja inklusif bagi penyandang disabilitas.

Nyanyu menyampaikan bahwa momentum pertambahan usia kota ini harus diiringi dengan peningkatan kualitas kesehatan dan akses pendidikan bagi seluruh anak di Kota Mataram. (29/8)


"Di usia yang ke-33 ini, tentu kita berharap Kota Mataram menjadi lebih dewasa. Terkait kesehatan dan pendidikan, kita berharap ke depan jauh lebih baik lagi, terutama bagaimana menangani masalah anak stunting serta perbaikan sistem PPDB agar tidak selalu bermasalah setiap tahunnya," ujar Nyanyu.


Rangkul Anak Jalanan dan Putus Sekolah


Selain perbaikan sistem pendaftaran sekolah, perhatian serius juga ditujukan pada anak-anak yang terancam putus sekolah dan berkeliaran di jalanan. Nyanyu menekankan pentingnya memutus mata rantai persoalan sosial ini dengan merangkul kembali anak-anak tersebut agar dapat mengenyam pendidikan formal demi keselamatan dan masa depan mereka.


"Persoalan anak-anak di jalanan ini sangat mengkhawatirkan, terutama terkait keselamatan mereka. Kita harus memutus mata rantai tersebut dan menyelesaikan akar masalahnya. Anak-anak yang putus sekolah harus kita rangkul kembali agar bisa pulang ke sekolah," tegasnya.



Dorong Kesempatan Kerja Inklusif bagi Disabilitas


Tak hanya isu anak, Nyanyu juga menyuarakan pentingnya kesetaraan bagi warga berkebutuhan khusus (disabilitas). Menurutnya, banyak penyandang disabilitas di Kota Mataram yang memiliki prestasi akademik gemilang—bahkan lulus kuliah dengan predikat cumlaude—namun masih kesulitan mendapatkan akses pekerjaan yang layak.


Ia mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait, seperti Dinas Komunikasi dan Informatika (Infokom), untuk membuka ruang bagi penyandang disabilitas sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka, misalnya sebagai petugas layanan informasi atau call center.


"Mataram harus menjadi kota untuk semua, termasuk bagi saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus. Ketika diberikan kesempatan, mereka pasti mampu mengisi ruang-ruang tersebut. Kita berharap ke depan ada perhatian dan ruang yang nyata bagi mereka di dunia kerja," pungkasnya.

Posting Komentar