Hari Kedua Karantina Offline, Finalis Putri Hijabfluencer NTB 2026 Dibekali Edukasi Bahaya Pernikahan Anak

Daftar Isi



MATARAM – Memasuki hari kedua masa karantina, para finalis Pemilihan Putri Hijabfluencer Nusa Tenggara Barat (NTB) 2026 mendapatkan pembekalan krusial mengenai isu sosial dan kesehatan. Ibu Wakil Gubernur NTB, yang diwakili oleh Ibu Dra. Nunung Triningsih, M.M., memberikan pemaparan mendalam mengenai bahaya pernikahan Anak di hadapan puluhan finalis yang berlangsung di lokasi karantina bertempat di Aula Museum Negeri Provinsi NTB. (25/5)


Dalam penyampaiannya, Dra. Nunung Triningsih, M.M., menekankan pesan khusus dari Ibu Wakil Gubernur NTB agar para influencer muda berhijab ini dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di tengah masyarakat, khususnya dalam menekan angka pernikahan anak yang masih menjadi tantangan di wilayah NTB.




"Pernikahan Anak bukan sekadar masalah tradisi atau sosial semata, melainkan bom waktu yang mengancam masa depan generasi bangsa. Ibu Wakil Gubernur menitipkan pesan mendalam kepada anak-anakku para finalis, agar kalian menggunakan suara dan pengaruh digital kalian untuk menyuarakan stop pernikahan usia anak," ujar Ibu Nunung Triningsih dalam arahannya


Dalam materi tersebut, dipaparkan berbagai dampak multi-dimensi akibat pernikahan yang dipaksakan di usia terlalu muda, di antaranya:

  • Dampak Kesehatan: Risiko tinggi terjadinya stunting pada anak yang dilahirkan, angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) yang meningkat akibat ketidaksiapan organ reproduksi.
  • Dampak Psikologis: Ketidaksiapan mental dalam membina rumah tangga yang memicu tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga perceraian.
  • Dampak Ekonomi & Pendidikan: Terputusnya akses pendidikan bagi remaja perempuan, yang melanggengkan rantai kemiskinan struktural.


Ibu Nunung menambahkan bahwa finalis Putri Hijabfluencer NTB memiliki posisi strategis. Sebagai representasi muslimah muda yang cerdas dan kreatif di media sosial, mereka diharapkan mampu mengemas kampanye edukatif yang segar dan mudah diterima oleh generasi Z dan Alpha.




"Kalian adalah teladan. Menjadi hijabfluencer bukan hanya tentang penampilan yang estetik di media sosial, tetapi bagaimana konten yang kalian buat memiliki dampak nyata (real impact) untuk menyelamatkan masa depan teman-teman sebaya kalian dari bahaya pernikahan Anak," pungkasnya di akhir sesi pembekalan.


Momen karantina Offline hari kedua ini berlangsung interaktif. Para finalis tampak antusias berdiskusi dan berkomitmen untuk mengintegrasikan isu perlindungan anak dan perempuan ke dalam program kerja serta konten digital mereka ke depan.

Posting Komentar